Kekasihku

Hadirmu dalam hidupku
Mengoyak keakuanku kini
Nikmati senyum lembutmu
Lenyapkan bimbang ragu
akan sirnanya goresan luka

Ku kan slalu berdosa
Bila abaikan cintamu
Ku kan slalu berdoa
Agar hatimu tetap utkku
Selamanya utk selamanya.

Puspa mawar bidadariku
Semerbak wangi tubuhmu
Picu gelora gairahku
Tak habis nafas mencumbuimu
Hingga purnama lelah bersinar..

Bungaku peluklah aku erat
Biar kutelan rinduku ini
Hasratku tak (pernah) berubah
(Bila) sekedar kau bermuram durja
Ku dekap jika kau lara

Jaga hati tak pernah mudah
Banyak godaan menghalangi
Silih berganti tak kunjung lelah
Pisahkan raga satu jiwa
Satu cerita dalam satu romansa

Puspa mawar bidadariku
Biar kuhisap peluhmu
Dipacu hasrat lelakiku
Bagai biduk kencang melaju
Sampai lelah menghampiriku

(catatan: Dibuat dlm perjalanan dr rmh ke ktr pd hari Senin pagi, 18 Februari 2013)

Kau tahu, nak (Cimura Feb 2013)

Kau tahu, nak
Aku bukan yang istimewa
Aku hanya merasa bahagia
Karna kau hadir dalam hidupku

Kau tahu, nak
Senyummu teduhkan hatiku
Langkah kecilmu tlah menyatu
Dengan rindu peluk darimu
geaksara.jpg
Bila kau besar nanti
Kejarlah mimpi indahmu
Meraih bintang di langit
Lalu berikan pada ibumu

Senang rasanya kau tahu
Hidupmu adalah gerakmu
Tiada yang dapat hentikan
Langkahmu meraih ambisi

Bila duka menylimuti
Jangan larut dalam luka
Jangan kau cepat putus asa
Karna duka ‘kan beralih suka

Kau tahu, nak…

Song of Man, Khalil Gibran

gibran

I was here from the moment of the
Beginning, and here I am still. And
I shall remain here until the end
Of the world, for there is no
Ending to my grief-stricken being.

I roamed the infinite sky, and
Soared in the ideal world, and
Floated through the firmament, But
Here I am, prisoner of measurement

I heard the teachings of Confucius;
I listened to Brahma’s wisdom;
I sat by Buddha under the Tree of Knowledge,
Yet here am I, existing with ignorance
And heresy

I was on Sinai when Jehovah approached Moses
I saw Nazarene’s miracles at the Jordan;
I was in Medina when Mohammed visited.
Yet here I am, prisoner of bewilderment.

Then I witnessed the might of Babylon;
I learned of the glory of Egypt;
I viewed the warring greatness of Rome.
Yet my earlier teachings showed the
Weakness and sorrow of those achievements

I conversed with magicians of Ain Dour;
I debated with the priest of Assyria;
I gleaned depth from the prophets of Palestine.
Yet I am still seeking the truth.

I gathered wisdom from quiet India
I probe the antiquity of Arabia
I heard all that can be heard
Yet my heart is deaf and blind

I suffered at the hands of despotic rule
I suffered slavery under insane invaders
I suffered hunger imposed by tyranny
Yes I still possess some inner power
With which I struggle to greet each day

gibran2

My mind is filled, but my heart is empty
My body is old, but my heart is an infant
Perhaps in youth my heart will grow, but I
Pray to grow old and reach the moment of
My return to God. Only then will my heart fill!

I was here from the moment of the
Beginning, and here I am still. And
I shall remain here until the end
Of the world, for there is no
Ending to my grief-stricken being

Dilema

Ada yang mau masuk surga ya?
masuk jadi pegawai negeri saja.
Jadi pegawai negeri itu dijamin masuk surga.
Pasti tidak percaya?
Pengabdiannya tidak kalah dengan biksu dan pastur.
Malah biksu dan pastur disuruh hidup sederhana tanpa beban,
Hidupnya sendiri tanpa pikirkan keluarga..
Karena tidak dilarang, pegawai negeri kawin dan punya anak..
Alih alih hidup sederhana, malah jadi melarat..
Pegawai negeri yang masuk surga itu yang tega anaknya cuma lulusan SD
Boro-boro kuliah, apalagi sampai ke Australia…
Mau cari bea siswa otak anak kurang encer karena kurang gizi..
Tiap hari memikirkan istri mengeluh sembako terus naik
Anak-anak minta sekolah terus seperti teman-temannya
Nelangsa..
Kerjaan jadi berantakan.
Akhirnya dimaki-maki.
Masih ada yang mau masuk surga?
Jangan jadi pegawai negeri.
Pegawai negeri banyak yang sudah pasrah kalau tidak masuk surga.
Pasti tidak percaya?
Mereka tidak mau memikirkan surga buat dirinya saja sementara anaknya
hidup minder dan frustasi karena sekolahnya tidak tinggi
Mereka juga tidak mau istrinya pun jadi minder gaul dengan
teman-temannya karena baju dan sepatunya cuma punya satu.
Apa jadi pegawai negeri kudu mau melarat ya?
Kalau hidup sendirian mungkin bisa, tapi anak istri?
Apa Tuhan suka orang yang mau masuk surga tapi melantarkan anak istri?
Pegawai negeri harus hidup sendiri?
Pilih jadi biksu dan pastor saja kalau begitu.
Jadi pegawai negeri harus ikhlas daftar urut masuk surganya digadaikan
Sekedar untuk tidak hidup melarat agar bisa beri anaknya gizi yang baik
dan pendidikan yang tinggi.
Dirinya dikorbankan tidak masuk surga demi anak-anaknya
Mereka tidak mau memberikan kemiskinan kepada anak istrinya
Tapi banyak yang tidak sekedar itu…bermewah-mewahan hidupnya..
Ah biarlah mereka sudah besar-besar, sudah tahu…
Tuhan Maha Tahu dan Maha Adil, hanya Dialah yang berhak menghakimi manusia.

Jakarta, 21 Mei 1998